Perpustakaan Desa Bangka Barat Jadi Contoh Nasional Kini tidak tertinggal
Nusantara expos
MENTOK, BANGKA BARAT – Di tengah derasnya arus digital dan kebiasaan masyarakat yang semakin dekat dengan gawai, perpustakaan desa di Kabupaten Bangka Barat justru menunjukkan geliat yang mengejutkan. Dari desa-desa kecil yang jauh dari hiruk pikuk kota, lahir gerakan literasi yang kini mulai diperhitungkan di tingkat nasional.
Sejumlah perpustakaan desa di Bangka Barat berhasil masuk dalam daftar apresiasi nasional Mitra JEMPOLAN Caturwulan I Tahun 2026 pada Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang digagas Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Penghargaan tersebut diberikan kepada perpustakaan desa dan kelurahan yang dinilai aktif, konsisten, serta memiliki dedikasi dalam menjalankan kegiatan perpustakaan dan pelaporan melalui SIM Transformasi.
Beberapa perpustakaan desa dari Bangka Barat yang berhasil meraih apresiasi nasional itu di antaranya Perpustakaan Puput, Teluk Limau, Air Belo, Belo Laut, Rambat, Ranggi Asam, Ketap hingga Benteng Kota.
Capaian itu menjadi bukti bahwa perpustakaan desa di Bangka Barat tidak lagi sekadar menjadi tempat penyimpanan buku. Perpustakaan mulai berkembang menjadi pusat aktivitas masyarakat, ruang belajar bersama hingga wadah tumbuhnya kreativitas warga desa.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Bangka Barat, Farouk Yohansyah, mengatakan penghargaan tersebut harus menjadi motivasi agar seluruh pengelola perpustakaan desa semakin aktif menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Untuk penilaian Caturwulan I ini, kami berharap jangan cepat berpuas diri. Jadikan ini sebagai pemacu agar lebih semangat berkegiatan. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bangka Barat akan terus membantu dan mendampingi seluruh perpustakaan desa,” ujar Farouk Yohansyah.
Menurut Farouk, tujuan utama transformasi perpustakaan bukan sekadar mengejar penghargaan, melainkan memastikan manfaat perpustakaan benar-benar dirasakan masyarakat desa.
“Karena setiap kegiatan perpustakaan, manfaat bagi masyarakat dan bagi daerah merupakan bukti bahwa peran itu memang ada. Jadi bukan hanya mendapatkan prestasi, tetapi manfaatnya harus dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” katanya.
Ia juga memastikan perpustakaan desa lain di Bangka Barat akan terus didorong berkembang dengan menjadikan perpustakaan yang telah berprestasi sebagai contoh praktik baik.
Di balik keberhasilan tersebut, ada proses pendampingan yang dilakukan secara rutin oleh fasilitator daerah dan pengelola perpustakaan desa.
Fasilitator Daerah Program TPBIS Kabupaten Bangka Barat, Yulianti, mengatakan keberhasilan perpustakaan desa tidak lepas dari dukungan penuh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Bangka Barat.
“Sebagai Fasilitator Daerah Program TPBIS, saya selalu mendapat dukungan dari Kepala Dinas Farouk Yohansyah dan Pustakawan Ahli Madya Winda Destaria. Dukungan mereka membuat saya semangat untuk terus mendampingi desa mitra TPBIS,” ungkap Yulianti.
Pendampingan dilakukan melalui pertemuan langsung maupun daring agar perpustakaan desa tetap aktif menjalankan program literasi dan pemberdayaan masyarakat.
“Kami sering melakukan pertemuan baik secara offline maupun online, termasuk bersama kepala desa sebagai tampuk pimpinan di desa,” katanya.
Menurut Yulianti, penghargaan Mitra JEMPOLAN Caturwulan I Tahun 2026 menjadi langkah awal bagi Bangka Barat untuk meraih pencapaian yang lebih besar di tingkat nasional.
“Penghargaan ini sebagai langkah awal kami di tahun 2026. Perjalanan kami masih panjang sampai akhir tahun 2026 dalam penghargaan bergengsi Pembelajaran Sebaya tingkat nasional,” ujarnya.
Ia berharap semakin banyak perpustakaan desa di Bangka Barat yang ikut berkembang dan merasakan manfaat program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.
“Kami terus berharap penghargaan ini juga didapat oleh perpustakaan desa yang lain agar seluruh masyarakat merasakan manfaat perpustakaan di seluruh Kabupaten Bangka Barat,” tambahnya.
Keberhasilan Bangka Barat dalam daftar Mitra JEMPOLAN nasional menunjukkan bahwa gerakan literasi di desa masih memiliki kekuatan besar di tengah perkembangan teknologi saat ini.
Dari ruang-ruang sederhana di desa, perpustakaan kini tumbuh menjadi simbol harapan baru. Tidak hanya menghadirkan budaya membaca, tetapi juga menjadi ruang belajar, ruang kreativitas, hingga pusat pemberdayaan masyarakat.
Dari desa-desa kecil di Bangka Barat, literasi perlahan bergerak melampaui batas wilayah dan mulai menunjukkan bahwa perubahan besar bisa lahir dari perpustakaan desa.

heigth 250>










