heigth 250>
Berita  

Guru Madrasah yang Menolak Menyerah: Mengajar di Pagi Hari, Memangkas Rambut Demi Kehormatan Diri

Pasaman Barat Nusantara Expos.Com — Di sebuah sudut sederhana di Lembah Malintang, Kabupaten Pasaman Barat, terdapat sosok guru yang setiap hari mengajarkan ilmu dan akhlak kepada anak-anak. Namun, ketika lonceng sekolah usai berbunyi, ia tidak langsung pulang untuk beristirahat.

Pria itu adalah Mulkan Jadid, S.Pd., yang lebih dikenal sebagai Ustadz Mulkan. Selain mengabdikan diri sebagai guru di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Tamiang, ia juga bekerja sebagai tukang pangkas rambut untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Bagi sebagian orang, profesi ganda tersebut mungkin dianggap tidak lazim. Namun bagi Ustadz Mulkan, pekerjaan apa pun memiliki nilai mulia selama dilakukan dengan jujur dan halal.

“Rezeki tidak akan datang hanya dengan menunggu. Harus dijemput dengan usaha dan kerja keras,” ujarnya.

Setiap pagi, Ustadz Mulkan hadir di ruang kelas untuk mendidik murid-muridnya. Dengan penuh kesabaran, ia menanamkan nilai agama, karakter, dan ilmu pengetahuan kepada generasi muda. Namun ketika aktivitas belajar mengajar selesai, ia beralih profesi.

Di sebuah tempat pangkas sederhana, tangannya yang sebelumnya memegang buku dan kapur kini memegang gunting serta alat cukur. Dari sana, ia mencari tambahan penghasilan untuk menopang kebutuhan rumah tangga.

Keputusan tersebut bukan tanpa tantangan. Suatu ketika, seorang teman yang telah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) melontarkan pertanyaan yang cukup menyentuh perasaannya.

“Apa kamu tidak malu masih mencukur rambut?”

Pertanyaan itu tidak membuatnya goyah. Dengan tenang, ia memandang pekerjaan yang dijalaninya sebagai bentuk ikhtiar dan kehormatan.

Bagi Ustadz Mulkan, rasa malu bukanlah ketika seseorang bekerja keras, melainkan ketika memilih berpangku tangan dan bergantung kepada orang lain. Ia percaya bahwa martabat seseorang tidak ditentukan oleh jenis pekerjaannya, tetapi oleh kejujuran dan tanggung jawab dalam menjalankannya.

Sikap tersebut menjadi pelajaran berharga, tidak hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi para murid yang setiap hari melihat teladan nyata dari gurunya. Melalui kehidupan yang dijalani, Ustadz Mulkan mengajarkan bahwa kerja keras, kemandirian, dan integritas merupakan nilai yang harus dijaga dalam kondisi apa pun.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi dunia pendidikan, kisah Ustadz Mulkan menjadi pengingat bahwa masih banyak guru yang mengabdi dengan ketulusan luar biasa. Mereka tidak hanya mengajar di depan kelas, tetapi juga memberi contoh melalui tindakan dan perjuangan hidup sehari-hari.

Hari ini, Ustadz Mulkan tetap menjalani dua peran tersebut dengan penuh semangat. Pagi hari ia mendidik generasi penerus bangsa, sore hari ia menjemput rezeki melalui profesi sebagai tukang pangkas rambut.

Di balik gunting yang bergerak dan papan tulis yang dipenuhi tulisan, tersimpan pesan sederhana namun kuat: tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan dengan cara yang halal, dan tidak ada perjuangan yang sia-sia ketika dijalani dengan keikhlasan.

(Rezki)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

--->

Dilarang menyalini apa pun keran  melanggar hukum