Gunung Tuleh| Nusantara Expos.Com – Aksi yang dinilai mempermainkan rakyat kembali terjadi. Sebuah SPBU di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, memicu kemarahan publik setelah menolak menjual BBM bersubsidi jenis Pertalite kepada warga.
Padahal stok di dalam tangki masih tersedia melimpah. Peristiwa “aneh bin ajaib” ini terjadi di SPBU Gunung Tuleh, milik pengusaha berinisial Haji Munar, pada Minggu (5/7/2026) sekitar pukul 16.30 – 17.00 WIB.
Antre Berjam-jam Berujung Kekecewaan
Sejak sore hari, puluhan pengendara sudah mengantre dengan tertib. Ada sekitar 30-40 kendaraan roda dua dan roda empat yang rela berjemur demi mendapatkan setetes Pertalite.
Namun harapan mereka pupus. Tanpa pemberitahuan, petugas pompa menghentikan pelayanan secara sepihak atas perintah pemilik.
“Atas perintah pemilik, kata petugas pompa bahwa tidak bisa dijual karena penuh kuota dan dijual besok kembali,” ungkap Junir Sikumbang, salah satu saksi di lokasi kepada j A. dengan nada kesal.
Yang membuat warga semakin geram, pengelola SPBU secara terang-terangan mengakui bahwa pasokan Pertalite baru saja masuk pada siang hari. Artinya, tangki pendam masih penuh. Tapi kran penjualan ditutup.
Protes Warga, Petugas Pilih Kabur
Melihat ketidakadilan di depan mata, suasana langsung memanas. Adu mulut dan keributan sempat terjadi antara warga yang emosi dengan petugas SPBU.
Warga menuntut kejelasan. Bagaimana bisa dikatakan kuota habis jika barangnya masih ada?
Alih-alih menenangkan atau memberikan solusi, para petugas justru memilih “langkah seribu”. Mereka meninggalkan area SPBU dan membiarkan warga yang sudah antre berjam-jam pulang dengan tangan kosong.
Muncul Dugaan “Kuota Gaib” dan Praktik Mafia BBM
Fenomena ini langsung memicu kecurigaan publik. Jika alasan penutupan adalah kuota harian, seharusnya tangki dalam keadaan kosong.
Fakta bahwa stok masih ada tapi tidak dijual memunculkan dugaan adanya praktik penimbunan atau pengalihan BBM bersubsidi ke industri/penjual eceran dengan harga lebih tinggi.
Warga menyebutnya “kuota gaib”. BBM ada, tapi tidak boleh dijual ke rakyat kecil.
“Ini sudah keterlaluan. Rakyat antre, minyak ada, tapi dipersulit. Diduga ada main di belakang,” ujar salah seorang warga yang enggan disebut namanya.
Desakan Agar Aparat Segera Turun Tangan
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pertamina, BPH Migas, maupun pihak SPBU Gunung Tuleh.
Warga Pasaman Barat mendesak aparat penegak hukum, Pertamina, dan pemerintah daerah segera melakukan audit dan investigasi.
Jangan sampai BBM subsidi yang dananya berasal dari pajak rakyat justru dipermainkan oleh segelintir oknum.
Kasus ini menjadi tamparan keras. Di satu sisi rakyat kesulitan, di sisi lain ada yang diduga bermain dengan kuota.
( Efrizal )

heigth 250>











