heigth 250>
Berita  

Penyitaan 3 Ton Sisik Trenggiling Ungkap Sadisnya Perdagangan Satwa Ilegal, 12.000 Ekor Tewas Demi Mitos

 

INDONESIA, http://NusantaraExpos.com– Penyitaan 3 ton sisik trenggiling oleh aparat di Indonesia kembali membuka tabir kelam perdagangan ilegal satwa liar. Jumlah fantastis ini menjadi bukti nyata betapa masif dan terorganisinya jaringan pemburu dan penyelundup di balik permintaan pasar gelap.

Berdasarkan data dan estimasi dari lembaga konservasi, setiap 1 kilogram sisik trenggiling kering berasal dari sekitar 4-5 ekor trenggiling dewasa. Dengan perhitungan sederhana, 3 ton atau 3.000 kilogram sisik tersebut diperkirakan mewakili lebih dari 12.000 ekor trenggiling yang harus kehilangan nyawa.

Angka ini setara dengan memusnahkan satu populasi besar trenggiling hanya dalam satu kali pengiriman.

Mitos Obat Tradisional, Akar Masalah Perburuan
Ironisnya, motif utama di balik pembantaian masal ini masih bertumpu pada mitos dan kepercayaan turun-temurun. Sisik trenggiling dipercaya memiliki khasiat sebagai obat tradisional untuk berbagai penyakit, mulai dari masalah menyusui hingga kanker.

Padahal, secara ilmiah telah terbukti bahwa sisik trenggiling tidak memiliki kandungan khusus. Sisik tersebut hanya tersusun dari keratin, protein yang sama persis dengan penyusun kuku, rambut manusia, dan cula badak.

Hingga kini, tidak ada satu pun jurnal medis kredibel atau penelitian ilmiah yang menunjukkan sisik trenggiling memiliki manfaat bagi kesehatan manusia.

Status Kritis dan Jerat Hukum yang Diabaikan
Trenggiling saat ini berstatus _Kritis_ atau _Critically Endangered_ dalam Daftar Merah IUCN. Artinya, spesies ini berada selangkah lagi menuju kepunahan di alam liar jika perburuan tidak dihentikan.

Di Indonesia, semua jenis trenggiling dilindungi penuh berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Secara internasional, perdagangan trenggiling juga dilarang keras melalui CITES Apendiks I.

Meski demikian, tingginya permintaan dari pasar gelap membuat praktik penyelundupan lintas negara masih terus terjadi dan menjadi bisnis menggiurkan bagi para pelaku.

“Tidak ada obat di dalam sisik trenggiling. Yang ada hanyalah jejak ribuan nyawa yang hilang karena keserakahan dan ketidaktahuan manusia,”

Mari hentikan permintaan terhadap produk satwa liar. Jangan biarkan trenggiling, satwa unik pemakan semut yang berperan penting dalam ekosistem, hanya tersisa dalam buku, foto, dan kenangan anak cucu kita.

( Efrizal )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

--->

Dilarang menyalini apa pun keran  melanggar hukum