Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa perang di Gaza belum akan berakhir sampai kelompok Hamas benar-benar dilucuti dari semua senjatanya.
NUSANTARA EXPOS.COM
INTERNASIONAL
Pernyataan keras ini disampaikan Netanyahu setelah Brigade Ezzedine Al-Qassam, sayap militer Hamas, menyerahkan dua jenazah sandera pada Sabtu (18/10) malam, sesuai kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat.
“Perang baru akan selesai ketika Hamas dilucuti. Bila bisa dengan cara mudah, syukur. Kalau tidak, dengan cara sulit, tetap akan diselesaikan,” kata Netanyahu dalam wawancara dengan Channel 14 Israel.
Kantor Netanyahu menyebut Palang Merah Internasional telah menerima jenazah dua sandera itu dan menyerahkannya kepada pasukan Israel di Gaza untuk diidentifikasi.
Namun, penemuan jenazah sandera disebut sebagai titik krusial dalam pelaksanaan fase pertama gencatan senjata. Israel bahkan mengaitkan pembukaan penyeberangan Rafah dengan proses pemulangan jenazah tersebut.
Netanyahu menilai fase kedua gencatan senjata harus mencakup pelucutan senjata Hamas dan demiliterisasi total Jalur Gaza, barulah perang bisa benar-benar berakhir.
Sementara itu, Hamas menolak tegas rencana tersebut. Setelah jeda pertempuran, pasukan Hamas dikabarkan kembali menguasai beberapa wilayah di Gaza.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengaku memiliki laporan kredibel bahwa Hamas tengah merencanakan serangan baru terhadap warga sipil di Gaza, yang bisa menjadi pelanggaran gencatan senjata.
“Jika Hamas melanjutkan serangan, langkah-langkah akan diambil untuk melindungi rakyat Gaza dan menjaga integritas gencatan senjata,” kata Kemenlu AS dalam pernyataannya.
Dalam dua hari terakhir, 29 jenazah tiba di rumah sakit Gaza, termasuk 23 korban serangan udara Israel, 4 korban serangan langsung, dan 2 korban luka-luka. Sebanyak 21 orang lainnya terluka dalam serangan yang terus berlanjut.
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, total korban jiwa akibat agresi militer Israel kini mencapai 68.116 orang, sementara 170.200 lainnya luka-luka.
Tragedi kemanusiaan ini juga mendapat perhatian dunia. Benjamin Netanyahu telah menetapkan Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant sebagai penjahat perang pada November 2024 lalu, serta mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional terhadap keduanya.

heigth 250>










