Pasaman Barat|Nusantara Expos.Com — Semangat khidmat dan kebersamaan mewarnai Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat Nahdlatul Ulama Kabupaten Pasaman Barat, Minggu (24/5/2026). Bertempat di Aula Kantor PCNU Pasaman Barat, ratusan kader Muslimat NU dari 11 Pimpinan Anak Cabang (PAC) se-Pasaman Barat berkumpul meneguhkan komitmen organisasi.
Mengusung tema “Peran Strategis Muslimat NU dalam Menguatkan Idiologi Ahlussunnah Wal Jamaah dan Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Emas 2045”, Harlah ke-80 ini menjadi ajang konsolidasi terbesar Muslimat NU Pasbar tahun ini.
Lahni Erawati: Keluarga Benteng Pertama Aswaja
Ketua PC Muslimat NU Pasaman Barat, Hj. Lahni Erawati, dalam pidato kebangsaannya menegaskan usia 80 tahun menjadi bukti Muslimat NU konsisten mengabdi. “Muslimat NU lahir untuk umat. Hari ini kita tegaskan lagi, Muslimat NU adalah garda terdepan penguatan idiologi dan nilai-nilai Islam Ahlussunnah Wal Jamaah,” tegasnya.
Hj. Lahni Erawati menempatkan keluarga sebagai basis perjuangan. “Keluarga adalah madrasah pertama, benteng pertama. Di sanalah karakter, akidah, dan akhlak anak ditanamkan. Kalau ibu-ibu Muslimat NU kuat Aswaja-nya, maka rumah tangga selamat, nagari selamat, Indonesia selamat. Dari rahim ibu Muslimat NU, kita siapkan generasi emas 2045,” ujarnya disambut takbir peserta.
Ia juga melaporkan capaian PC Muslimat NU Pasbar selama setahun terakhir. “Alhamdulillah, 11 PAC sudah aktif. 98 ranting hidup dengan majelis taklim rutin. Program ekonomi produktif jalan di 5 PAC. Ini ikhtiar kita menjaga Aswaja sekaligus menguatkan ekonomi keluarga,” tambah Hj. Lahni.
Tamu VIP: Bukti Muslimat NU Jadi Mitra Strategis
Peringatan Harlah ke-80 dihadiri jajaran lengkap unsur daerah dan struktur NU. Dari Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat, hadir Bupati yang diwakili Asisten 3 Hj. Harlina Syahputri. DPRD Pasbar diwakili Hj. Netra Ekawati dari Fraksi PKB. Jajaran Forkopimda, Kesbangpol, Ketua Bhayangkari beserta anggota, dan Ketua Wirid Yasin Pasbar juga tampak hadir.
Dari struktur NU, hadir Ketua PW Muslimat NU Sumatera Barat Riska Eka Putri, S.Pi., M.Si, PWNU Sumbar diwakili Buya Bulkhaini, Lc, Ketua PCNU Pasbar Buya Nasrullah, Lc., M.Pd.I, serta Ketua Mustasyar PCNU Pasbar Imam Jendri, S.Ag., M.Si. Dewan Pakar Muslimat NU Pasbar Dr. Mita Fitria, M.A juga memberikan tausiyah keaswajaan.
Organisasi kepemudaan NU seperti GP Ansor, Fatayat, IPNU, dan IPPNU turut mengirimkan delegasi. Seluruh Ketua PAC Muslimat NU se-Kabupaten Pasaman Barat hadir bersama ratusan anggota, membuat Aula PCNU penuh sesak hingga ke halaman.
Lomba Mars, Sholawat, Tilawah: Syiar dan Kaderisasi
Kemeriahan Harlah ditandai dengan digelarnya Lomba Mars Muslimat NU, Sholawat, dan Tilawah Al-Qur’an antar PAC. Lomba ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari syiar dan kaderisasi qari-qariah muda Nahdliyin.
Dewan juri yang terdiri dari qari nasional dan pimpinan LPTQ Pasbar menetapkan pemenang setelah penjurian ketat selama 4 jam.
Hasil Lomba Mars dan Sholawat:
Juara 1: PAC Sungai Aur, tampil kompak dengan aransemen hadroh modern.
Juara 2: PAC Pasaman, unggul di kekompakan vokal.
Juara 3: PAC Gunung Tuleh, kuat di penghayatan lirik.
Harapan 1: PAC Kinali
Hasil Lomba Tilawah:
Juara 1: PAC Ranah Batahan, atas nama Syafira Azzahra dengan lagu Bayati-Nahawand yang fasih.
Juara 2: PAC Pasaman
Juara 3: PAC Kinali
Harapan 1: PAC Pasaman
Ketua Dewan Juri, Ustadz Hendri Al-Banjari, memuji kualitas peserta. “Ini bukti pembinaan tilawah di Muslimat NU Pasbar jalan. Suara merdu, tajwid benar, penghayatan dapat. Teruskan sampai ke musabaqah nasional,” pesannya saat pengumuman.
Dr. Mita Fitria: Cetak Kurikulum Aswaja Keluarga
Dewan Pakar Muslimat NU Pasbar, Dr. Mita Fitria, M.A, dalam sesi materi inti mengajak seluruh kader membuat “Kurikulum Aswaja Keluarga”.
“Pertama, kenalkan Allah dan Rasulullah sejak dalam kandungan lewat doa dan sholawat ibu. Kedua, jadikan rumah sebagai pesantren mini. Maghrib mengaji, Subuh berjamaah. Ketiga, filter media digital. Ibu harus lebih canggih dari anak soal HP,” papar doktor tafsir lulusan UIN Imam Bonjol tersebut.
Dr. Mita menegaskan peran ibu tidak bisa digantikan. “Ibu adalah madrasah pertama dan utama. Ibu adalah pendidik pertama bagi anak, sekaligus mitra setara bagi suami dalam membangun rumah tangga berlandaskan Islam rahmatan lil ‘alamin. Kalau ibu paham Aswaja, anak tidak akan mudah terpapar radikalisme atau liberalisme,” tegasnya.
Ia menyebut Muslimat NU Pasbar telah menjalankan program hingga nagari dan dusun. “Pengajian rutin tiap ranting, Sekolah Ibu Muslimat, pelatihan UMKM halal, hingga posko konsultasi keluarga sakinah. Semua berorientasi pada penguatan idiologi NU dalam keseharian,” jelas Dr. Mita.
Dukungan Pemkab: Muslimat NU Investasi Jangka Panjang
Asisten 3 Setda Pasbar, Hj. Harlina Syahputri, menyampaikan apresiasi Bupati atas peran Muslimat NU. “Tantangan zaman hari ini berat. Arus informasi tanpa filter, budaya asing, narkoba, pergaulan bebas mengintai keluarga kita. Di sinilah peran perempuan Nahdliyin sangat dibutuhkan,” katanya.
Hj. Harlina menilai keluarga yang kokoh pemahaman agamanya akan melahirkan generasi berkarakter. “Berakhlak mulia, berpegang teguh pada prinsip Ahlussunnah Wal Jamaah. Inilah kontribusi nyata Muslimat NU bagi bangsa dan negara,” lanjutnya.
Ia menegaskan posisi Muslimat NU sebagai mitra strategis Pemkab Pasbar. “Apa yang dilakukan Muslimat NU adalah investasi jangka panjang. Menguatkan idiologi di keluarga berarti menjaga masa depan generasi Pasaman Barat agar tetap berakhlak, berbudaya, dan bersatu dalam bingkai NKRI,” tutup Hj. Harlina.
Ketua PW Muslimat NU Sumbar: Perkuat Jaringan Sampai Anak Ranting
Ketua PW Muslimat NU Sumbar, Riska Eka Putri, S.Pi., http://M.Si, meminta PC Muslimat NU Pasbar tidak berhenti di Harlah. “PR kita masih banyak. Stunting, perceraian, kenakalan remaja. Jawabannya ada di keluarga. Makanya PW dorong program 1 Ranting 1 Majelis Taklim dan 1 Anak Ranting 1 Kelompok UMKM. Muslimat NU harus hadir di jantung persoalan umat,” serunya.
Riska juga mengingatkan pesan Ketua Umum PP Muslimat NU. “Ibu Khofifah selalu bilang, Muslimat NU itu harus solutif. Bukan hanya pandai mengaji, tapi juga pandai mendidik, pandai ekonomi, pandai jaga NKRI. Harlah ke-80 ini momentum kita naik kelas,” pesan Riska.
Buya Nasrullah: Muslimat NU Tiang Penyangga NU
Ketua PCNU Pasbar, Buya Nasrullah, Lc., M.Pd.I, dalam mauidhoh hasanah menyebut Muslimat NU sebagai tiang penyangga. “Laki-laki NU kuat karena ada ibu Muslimat NU di belakangnya. Sejarah mencatat, ibu-ibu Muslimat NU yang menjaga pesantren, menghidupkan majelis taklim, dan melahirkan ulama. Maka jaga Aswaja mulai dari dapur, dari kamar tidur, dari ruang keluarga,” pesan Buya Nasrullah.
Launching Program dan Komitmen Bersama
Puncak Harlah ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Hj. Lahni Erawati didampingi seluruh tamu VIP. Dilanjutkan launching resmi program “1 Ranting 1 Majelis Taklim, 1 Anak Ranting 1 UMKM Halal” sebagai kado Harlah ke-80 untuk umat.
Seluruh Ketua PAC menandatangani komitmen bersama “Pasaman Barat Rumah Kita, Aswaja Akidah Kita, Keluarga Benteng Kita” di atas kain putih sepanjang 10 meter.
Acara ditutup dengan pembacaan sholawat bersama, doa untuk keselamatan bangsa oleh Buya Bulkhaini, Lc, dan ramah tamah. Seluruh kader pulang membawa semangat baru mengabdi untuk NU, bangsa, dan agama menuju Indonesia Emas 2045.
( DONA )

heigth 250>









