BUNGKAM DI TENGAH SEGEL! BUPATI DELI SERDANG ALERGI SAAT DITANYA WARTAWAN MENGENAI TOWER DISAMPALI
Nusantaraexpos.com
*DELI SERDANG* – Jabatan publik itu amanah, bukan tameng. Tapi amanah itu seolah ditendang saat Bupati Deli Serdang memilih bungkam saat dicegat wartawan.
Konfirmasi soal keberadaan tower di Desa Sampali, Percut Sei Tuan, mentok di tembok diam. Padahal, bangunan itu kabarnya sudah disegel dan mengantongi Surat Peringatan dari Pemkab. Faktanya di lapangan? Tower itu masih berdiri kokoh dan beroperasi seperti tidak terjadi apa-apa.
Alasan yang dilempar: “Lagi kunjungan ke Kecamatan Sunggal”.
*SEGEL JADI HIASAN, PERDA JADI LELUCON*
Pertanyaannya sederhana dan telak: Kalau sudah disegel dan disurati, atas dasar apa tower itu masih beraktivitas? Siapa yang membiarkan? Siapa yang lalai?
Ini bukan lagi soal besi dan beton. Ini soal wibawa Perda, wibawa Satpol PP, dan wibawa Bupati sendiri yang dipertaruhkan di depan publik.
Dalih “kunjungan” tidak bisa dipakai bersembunyi. Agenda bisa diatur ulang. Tapi kepercayaan publik yang ambruk karena bungkam, tidak bisa dipasang lagi.
Jabatan itu untuk menjawab. Untuk menjelaskan. Untuk bertanggungjawab. Bukan untuk menghilang saat ditanya hukum.
*DIAM = LAMPU HIJAU?*
Wartawan tidak iseng mencegat. Mereka membawa kegelisahan warga Sampali. Warga yang kini bertanya dengan nada marah: Apakah aturan di Deli Serdang hanya berlaku di atas kertas?
Jika tower itu melanggar, tegakkan hukum. Jika tidak, jelaskan ke publik. Titik.
Karena diam seorang kepala daerah saat pelanggaran kasat mata terjadi, sama artinya dengan memberi lampu hijau. Sama artinya dengan merestui.
Rakyat Deli Serdang tidak memilih Bupati untuk sibuk selfie di kecamatan, lalu menghilang saat hukum di desanya sendiri ditanya.
*TUTUP TOWER YANG DIDUGA MELANGGAR ITU. BUKA MULUT UNTUK JAWAB RAKYAT ITU.*
Karena Deli Serdang butuh pemimpin yang berani dikonfirmasi, bukan yang alergi dengan kebenaran.
*#TutupTowerSampali #BukaMulutBupati*

heigth 250>












