Nusantaraexpos.com | PASAMAN BARAT, 12/06/2026 –
Dini hari hampir tiba. Kebanyakan orang sudah terlelap. Tapi di salah satu rumah kayu sederhana di Pasaman Barat, masih terdengar suara pelan dan ayunan lembut.
Di sanalah Nelti Sari, seorang nenek, duduk bersila di lantai. Tangannya tak henti menggoyang buaian ungu. Di dalamnya terbaring Ghafi Naqi Albarra, sang cucu tercinta.
Jam menunjukkan pukul 11 malam. Tapi bagi Nelti, waktu seperti berhenti. Yang ada hanya dia, cucunya, dan kasih sayang yang tak pernah habis.
Cinta Yang Tidak Mengenal Lelah
Rumah Nelti sederhana. Dindingnya dari papan, lantainya beralaskan tikar bermotif bunga, dan di sudut ruangan ada kipas angin tua yang berputar pelan.
Tapi di dalam kesederhanaan itu, ada kehangatan yang mahal harganya. Ada tawa, ada doa, dan ada seorang nenek yang rela begadang demi menidurkan cucunya.
_”Kalau si Ghafi belum tidur, nenek juga belum bisa merem. Kasian kalau nangis terus,”_ kata Nelti lirih sambil terus mengayun.
Ghafi Naqi Albarra adalah segalanya bagi Nelti. Di usianya yang tak lagi muda, tenaga dan waktu ia curahkan untuk merawat sang cucu.
Rumah Kecil, Keluarga Utuh
Bagi sebagian orang, rumah Nelti mungkin hanya bangunan kayu biasa. Tapi bagi mereka, itu istana.
Di rumah kecil itulah cinta tumbuh. Tidak ada perabot mewah, tidak ada kasur empuk. Yang ada hanya tikar, bantal, dan pelukan seorang nenek yang selalu ada.
Kisah Nelti dan Ghafi mengingatkan kita:
Bahagia itu bukan soal seberapa besar rumahnya. Tapi seberapa besar cinta yang menghuninya.
Di tengah dunia yang serba cepat, masih ada sosok seperti Nelti Sari. Sosok yang mengajarkan arti ketulusan tanpa pamrih, arti begadang tanpa keluh, dan arti cinta tanpa syarat.
( Editor Efrizal )

heigth 250>











